WELCOME | Login or Register SEARCH

Pemilik Rhesus Negatif di Jambi 10 orang

JAMBI - Pada umumnya golongan darah biasa dikenal dengan sistem ABO, jarang masyarakat mengenal golongan darah rhesus positif dan negatif. Dalam sistem ABO, golongan darah terbagi menjadi empat macam: A, B, AB, dan O, sedangkan dalam sistem rhesus, golongan darah terbagi menjadi dua yaitu rhesus positif dan rhesus negatif. Kedua sistem penggolongan ini berbeda satu sama lain.

Menurut Koordinator untuk Rhesus Negatif (RNI) Wilayah Jambi, Mira Deswita, mengenali rhesus khususnya rhesus negatif menjadi begitu penting karena di dunia ini hanya sedikit orang yang memiliki rhesus negatif. Persentase jumlah pemilik rhesus negatif berbeda-beda antar kelompok ras.

“Pada ras bule seperti warga Eropa, Amerika, dan Australia, jumlah pemilik rhesus negatif sekitar 15 – 18%. Sedangkan pada ras Asia, persentase pemilik rhesus negatif jauh lebih kecil. Menurut data Biro Pusat Statistik 2010, hanya kurang dari satu persen penduduk Indonesia, atau sekitar 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negatif. Karena persentasenya sangat kecil, jumlah pendonor pun amat langka, sehingga bila memerlukan donor darah agak sulit,” ujar Mira Deswita kepada Metrojambi.com, Senin (20/5).

Di dalam sistem rhesus, kata Mira Deswita, terdapat aturan khusus dalam urusan sumbang-terima darah. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditranfusi dengan darah rhesus positif. Ini dikarenakan sistem pertahanan tubuh si penerima donor akan menganggap darah rhesus positif dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan seperti virus atau bakteri.

“Sebagai bentuk perlawanan, tubuh reseptor akan memproduksi antirhesus. Saat transfusi pertama, kadar antirhesus masih belum cukup tinggi sehingga relatif tak menimbulkan masalah serius. Tapi pada tranfusi kedua, akibatnya bisa fatal karena antirhesus mencapai kadar yang cukup tinggi. Antirhesus ini akan menyerang dan memecah sel-sel darah merah dari donor, sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel darah merah itu. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan tranfusi darah tak tercapai, tapi malah memperparah kondisi si reseptor sendiri,” jelasnya.

Menurut Mira, ada resiko inkompatibilatis rhesus pada janin ibu pemilik rhesus negatif sedangkan Ayah Rhesus Positif, ada sensitisasi Rh. Sensitisasi  Rh yaitu respon sistem kekebalan  tubuh Rh- untuk membentuk antibodi terhadap darah Rh+ yang masuk ke dalam sistem peredaran darah Rh-. Hal  ini bisa dicegah bila kita tahu rhesus kita.

Lebih jauh Mira Deswita berharap masyarakat Jambi tahu tentang apa itu Rhesus Negatif dan semakin banyak orang yg peduli dan paham tentang Rhesus Negatif, sehingga bisa berkumpul bersama dalam satu wadah dengan harapan suatu saat ada kebutuhan bisa saling membantu. “Sebagai, informasi untuk di Jambi sendiri kurang lebih baru 10 orang yang terdata sebagai pemilik Rhesus Negatif,” tutupnya.

Reporter : Muhamad Usman

http://www.metrojambi.com/v1/home/kesehatan/18401-pemilik-darah-rhesus-negatif-di-jambi-10-orang.html#.UZnaGji0MIo